Minggu, 12 Mei 2013

Pasar dan Tukang Sayur



Setiap sore, pasar itu ramai dikunjungi oleh ibu rumah tangga yang mencari bahan pangan untuk menu santapan malam keluarga. Ditengah keramaian lalu lalang pembeli, seornag pedagang sayuran dengan bermodalkan gerobak menjajakan dagangannya. Ada beberapa jenis sayur yang dijajakan, di ikat dengan rapi sesesuai takaran harga yang ditentukannya. Ada sayur bayam, kangkung, sawi dan beberapa jenis sayuran daun dan umbi-umbian lainnya. Namun diantara sayur hanya beberapa yang laris dibeli oleh ibu-ibu rumah tangga, sebab jenis sayur itu mudah diolah tanpa menambahkan jenis sayur lainnya, kata seorang ibu sambil mententeng barang bawaannya. Sayur kangkung dan bayam menjadi best seller disetiap transaksi sayur-mayur dipasar, tak heran pedangang sayur tersebut lebih proaktif mengontrol kualitas sang sayur. Harganya pun sangat murah hanya dengan seribu rupiah seikat kangkung dapat dinikmati oleh seluruh keluarga yang berjumlah dua sampai tujuh anggota keluarga, jauh lebih murah dan banyak dibandingkan dengan Indomie, yang katanya lebih hemat dan sehat. Apalagi disantap bersama dengan keluarga jauh lebih asyik dan berberkah.
Sebelum menjajakan sayurnya, si pedagang terlebih dahulu memilah-milah daun yang sudah kekuning-kuningan agar tampak segar dan diminati oleh pembeli sebagai konsekuensi sayur yang berkualitas. Daun demi daun dipilahnya membuat kuku jemarinya tampak kehitaman, pandangan mata dan gerakan jemarinya seirama memetik daun yang kekuningan seakan seorang komposer yang mengarahkan orkestra. Setelah semuanya dipetik dampak kehijauan barulah diikat dengan karet sesuai dengan takaran harga seribu perikatnya, sebesar genggaman orang dewasa ia mengikatnya tanpa mengetahui berapa banyak batang kangkung yang ada digemgamannya. Hanya bermodalkan naluri ia memprediksi untung rugi dagangannya, namun sudah pasti ia untung walau hanya beberapa rupiah saja dalam seikat kangkung yang laku terjual. Sebagaimana layaknya jual-beli, negosiasi harga pastilah terjadi. Dengan harga seribu rupiah per ikatnya kadang pembeli menawarnya dengan dua ribu rupiah untuk tiga ikatnya. Ia pun tak segang menerima tawaran itu, pikirnya daripada sayurnya tinggal kemalaman dan tidak laku lebih baik ia menerima asalkan sudah kembali modal dan merupakan kebahagian tersendiri baginya dapat menjajakan hasil dagangannya di meja makan keluarga konsumen, demikian cara bisnisnya yang tidak memerlukan logika kapitalisme yang sangat ekploitatif dan akumulasi laba yang tinggi.
Malam harinya, pasar itu tampak sangat indah. Dihiasai dengan gemerlipnya cahaya lampu strongki, sebuah lampu yang bahan bakarnya berasal dari minyak tanah, adapula lampu neon dan adapula lampu yang berasal dari botol yang diberi sumbu sebagai sumber penerangannya.

Menulis



Memikirkan untuk menjadi penulis memang mudah, tapi tiba pada tataran pelaksanaan dalam kehidupan sangatlah susah, tak semudah apa yang telah dipikirkan. Yang seolah-olah dalam pikiran menulis ibarat makan yang tinggal membuka mulut lalu menelannya dengan penuh berkah, namun menulis sesuatu tidaklah demikian sebab dalam menulis kita diajak untuk menuangkan apa yang kita pikirkan secara semantik jika tidak tulisan kita tidak memiliki makna atau paling tidak pembaca tidak dapat memahami apa yang kita tulis berdasarkan pikiran kita, jadi mau tidak mau kita dapat dianggap “gila” sebab apa yang kita tulis berdasarkan apa yang kita pikir tidak dimengerti oleh pembaca.
Ibaratnya “ilmu itu adalah binatang liar, maka untuk mampu menjinakkannya harus diikat terlebih dahulu dengan tali atau semacamnya”. Demikian juga dengan menulis sebagai pengikat akan ilmu yang kita tuntut sebab hafalan tidak dapat diandalkan disebabkan oleh lupa yang senangtiasa menggerogoti manusia.
Menulis adalah sebuah harmonisasi akan ilmu pengetahuan, dimana pikiran dan tata bahasa saling mengharmoniskan  demi mewujudkan suasana nyaman bagi pembaca ketika membaca apa yang kita tulis. Selain itu juga, menulis merupakan proses pencerahan akan ide atau gagasan yang kita tawarkan kepada para pembaca. Seorang penulis yang baik adalah ketika mampu menggerakkan hati dan pikiran serta laku para pembaca yang terinspirasi dari tulisan penulis.
Menulis sesuatu harus memiliki referensi yang memadai dan wawasan yang luas, olenya itu diharuskan memperbanyak membaca, sebab dengan membaca pikiran diajak untuk berdialog dengan teks-teks ilmu pengetahuan sehingga dapat menlahikan bibit-bibit ilmu pengetahuan yang dituangkan melalui teks-teks pula.
Membaca bukan berarti menikmati sajian ilmu pengetahuan oleh si pengarang, namun jauh dari itu, kita diajak untuk berdialog dan mengkritisi dengan menganalisis teks-teks ilmu pengetahuan yang dibuat oleh si pengarang sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan yang baru.
Membaca juga dapat diartikan bukan hanya dengan proses pergumulan dengan teks-teks, namun pergumulan dengan pengalaman hidup atau realitas dapat dikategorikan dengan membaca. Dengan membaca realitas kita diajak untuk mampu merenunggi segala peristiwa yang terjadi baik disekitar kita maupun yang jauh disana, sehingga kita dapat menghasilkan inspirasi dan gagasan yang dapat dituangkan kedalam tulisan.
Jadi membaca dan menulis merupakan proses yang akan melahirkan menulis dan membaca kembali, bagaikan sebuah mata rantai spiral yang tak pernah putus. Sebab jika putus maka proses keilmuan akan terputus pula yang berdampak pada pendangkalan pikiran dan pembodohan massal manusia secara umum.